Kamis, 04 Juli 2013

MISTERI GUNUNG PADANG

Walaupun situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur sebenarnya ditemukan pada tahun 1914, tempat ini baru ramai dikunjungi sejak awal 2011. Saat itu sebuah survei menyatakan, bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang lebih tua daripada piramida Giza di Mesir.

Perjalanan 2,5 jam dari Puncak, Jawa Barat, cukup nyaman. Akses ke Gunung Padang yang berada di Desa Karyamukti, Cianjur, sebagian besar buruk dengan jalanan berbatu. Namun, di sepanjang perjalanan saya disuguhi hijaunya bukit, sawah yang bertingkat rapi, serta kebun teh. Justru di sekitar perkebunan ini jalan lumayan bagus dibandingkan dengan ketika berada di permukiman penduduk.

Pemandangan menuju ke Gunung Padang

Saat tiba di Gunung Padang, pengunjung belum terlalu ramai. Namun, tidak sepi juga karena waktu itu bertepatan dengan liburan sekolah. Mobil diparkir di dekat gerbang. Setelah itu saya harus berjalan beberapa puluh meter melalui jalan berbatu ke loket. Tarif masuknya murah, hanya Rp2000 untuk pengunjung lokal dan Rp5000 untuk wisatawan asing.

Saya memakai pemandu wisata untuk mendapatkan informasi. Pak Harba, namanya, bercerita dia sudah enam tahun menjadi pemandu wisata di Situs Gunung Padang. Ia menunjukkan mata air yang berada di kaki tangga. Katanya, air itu dulu digunakan oleh peziarah untuk mencuci kaki sebelum naik ke atas. Kini, pengunjung juga bisa minum dan mencuci muka dari mata air tersebut.

Saya, suami, anak, dan seorang kawan kemudian naik melalui tangga ziarah — tangga batu asli yang dibangun pada masa lalu. Medannya cukup berat. Pak Harba menawarkan untuk membawakan ransel yang digendong kawan tersebut. Memang keputusan yang tepat, karena saya dan teman saya tersebut terengah-engah mendaki tangga batu terjal.
Ruangan berpagar batu yang disebut aula
Sampai di atas, saya agak berkunang-kunang setelah mendaki 370 anak tangga yang terjal dengan cukup cepat. Kawan saya tertinggal di belakang ditemani Pak Harba.

Di atas, pengunjung sudah ramai berfoto dengan batu yang berserakan. Luar biasa memang, sulit dibayangkan puluhan ribu tahun yang lalu manusia sudah dapat membentuk bebatuan besar semacam itu. Banyak di antaranya yang berbentuk segi lima.

Pak Harba menunjukkan beberapa titik yang dianggap menarik, antara lain tapak harimau pada permukaan sebongkah batu, singgasana, sebuah area kecil dipagari batu yang ia sebut “aula”, dan jajaran batu berbagai ukuran yang dikenal dengan istilah batu gamelan.

Selain menikmati peninggalan zaman purba yang sangat menarik, saya memperhatikan bahwa lokasi situs ini bersih. Ada beberapa penjual es krim, rujak, dan minuman dingin, namun tidak tampak sampah berserakan. Berbeda dengan lokasi wisata di Indonesia pada umumnya.

Situs Gunung Padang yang bersih dari sampah.

Ternyata, para pemandu wisata serta petugas pengelola senantiasa memunguti sampah yang berserakan. Tidak hanya sampah plastik, daun-daun yang jatuh pun mereka ambil satu per satu untuk dimasukkan ke dalam tempat sampah.

Setelah itu akan ada petugas yang memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Pak Harba menjelaskan pada saya bahwa sampah plastik akan dijual, uangnya disimpan dalam kas pengelola.

Andai semua lokasi wisata seperti ini pasti pariwisata Indonesia makin maju, pikir saya.

Walaupun panas terik, situs megalitikum yang berteras-teras ini nyaman dikunjungi karena masih banyak pepohonan besar. Para pengunjung duduk bergerombol di bawah pohon-pohon tersebut. Sejauh mata memandang pun hanya terlihat bukit-bukit hijau dan perkebunan teh. Bagi saya, ini cara tepat untuk melarikan diri dari Jakarta yang penuh polusi.

Bebatuan di Gunung Padang kebanyakan berbentuk prisma.

Pulangnya, kami memilih turun melalui tangga baru yang dibangun oleh pemerintah setempat. Walaupun jumlah anak tangganya lebih banyak, lebih mudah dilalui karena lebih landai. Kalau harus turun lewat tangga ziarah lagi, bisa-bisa saya terjun bebas, deh!

Terlepas dari kontroversi mengenai dugaan adanya piramida di bawah permukaan Gunung Padang, adanya teka-teki batuan lava, dan berapa sebenarnya umur situs ini, Gunung Padang memang layak dikunjungi. Kombinasi antara peninggalan masa lalu dan asrinya alam Cianjur membuat Gunung Padang pantas untuk masuk dalam agenda perjalanan.

Biarlah waktu yang menyingkap misterinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar